KICIMPRING BANDUNG
Kicimpring, Makanan Bandung Khas Preman Pensiun
Berlibur ke Bandung, kurang lengkap jika tak membawa buah tangan kecimpring, camilan keripik berbahan dasar singkong, spesial tatar Sunda. Makanan ringan yang bisa dinikmati sambil makan bakso atau mi ayam ini terlalu mudah ditemui di toko oleh-oleh. Bahkan pedagang asongan pun menjajakannya pada depan pintu tol Pasteur Bandung.
Pusat pembuatan Kicimpring merupakan di Sebagian besar rakyat kampung pada Kampung Babakan Bandung Desa Pager Wangi Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.
Bagi anda yg berminat menyaksikan industri pembuatan kecimpring dari arah Lembang lewat jalan alternatif Ciumbuleuit atau Dago yg nantinya tembus ke Punclut. Setelah melewati jalan menanjak dengan pemandangan kanan-kirinya kebun, anda akan bertemu dengan kampung penghasil kecimpring. Ciri-cirinya di depan teras tempat tinggal rakyat, anda akan melihat warga menjual kecimpring.
Yuswana, masyarakat Kampung Babakan Bandung Desa Pager Wangi ini menjual kecimpring pada teras rumahnya. Kecimpring yg ditawarkan berbagai rasa, mulai menurut asin, pedas, serta manis. “Kebanyakan pembeli lebih menyukai rasa cantik,” istilah Yus sapaan akrab Yuswana yg sudah menggeluti usaha kecimpring sejak 6 tahun kemudian.
Bahan bakunya beliau peroleh menurut petani singkong di Subang. Meski rumahnya yg bercat hijau itu dilingkupi kebun Singkong, beliau tetap membeli bahan standar itu menurut petani beserta harga rp 1200 per kilogram. Dalam sehari, dia mampu memasak 70 kg Singkong menjadi kecimpring.
Langkah terutama membuat Kicimpring adalah menyiapkan singkong yang telah dibersihkan kulitnya. Kemudian singkong diparut memakai mesin parut listrik. “jikalau dulu masih memarut dengan tangan, kini sih telah ada parutan listrik, pekerjaan jadi lebih gampang,” ujar bapak dua orang anak itu.
Seterusnya campuran dicampur beserta air, diberi irisan bawang daun, bumbu bawang putih, garam dan penyedap rasa. Setelah itu, campuran dimasukan ke loyang bulat tipis dengan berdiameter berkisar 25 cm .
Potongan pipa dipakai buat meratakan campuran. “Dulu loyangnya tutup panci, kini udah tersedia loyang khusus,” ungkapnya. Lalu adonan di kukus pada atas verbal panci yang berisi air mendidih dengan cara dibalik. “izin cepat matang,” ujarnya.
Lalu campuran dipotong beserta pisau bambu. Campuran yang masih basah di jemur pada atas Seseg, sejenis anyaman bambu akbar. Penjemuran dilakukan sekitar 4-6 jam. “bila mendung serta hujan terus, penjemuran bisa dua hari baru kering,” kata Yus.
Setelah kering, Kicimpring siap pada kemas dan pada goreng. Satu kilogram Kicimpring mentah rasa asin atau original dijual beserta harga Rp. 12.000 sedangkan rasa cantik dan pedas dibandrol Rupiah 20.000,-. Saya pernah mendapat pesanan 2000 lembar Kicimpring berdasarkan turis Singapura,” pungkasnya.
Dari Lina Marlina, 29 tahun, istri Yus, usaha kecimpring itu merupakan bisnis lanjutan berdasarkan ibunya. “Dulu mak saya menjualnya pada Pasar Punclut, ” katanya.
Kini, kata Lina, penghasil Kicimpring telah berkurang, padahal pemesanan trennya selalu naik semenjak 2010. Sesudah tempat tinggal Zakat, lembaga yang mengelola zakat menolong menaruh fasilitas kapital, beberapa masyarakat kembali memproduksi Kicimpring.
Pemberdayaan ekonomi berbasis potensi yg dilakukan sang tempat tinggal Zakat Bandung pada rakyat Babakan Lembang sebagai centra pembuatan Kicimpring adalah satu cara untuk terus meningkatkan jumlah produksi serta pemesanan.
“warga di sini tidak hanya mendapat keuntungan menurut bisnis ini, akan tetapi kelak daerah ini mampu menjadi kampung daerah tujuan wisata pada Bandung,” istilah kata Ahmad Arif, Mikro bisnis Office rumah Zakat Bandung.



Komentar
Posting Komentar